Sakitnya Hati Seorang yang Tidak Mendapatkan Ilmu

Assalamu’alaikum wa Rohmatullahi wa Barokaatuh. Para pembaca rahimakumullah pada halaman ini kami akan memberikan materi tentang pentingnya mendapat ilmu. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki atau tidak mendapat ilmu? Jawabnya sudah pasti hatinya sakit. Simak materi kami di bawah ini.

Sakitnya Hati Seorang yang Tidak Mendapatkan Ilmu

Siapa pun yang tidak mendapat ilmu maka niscaya hatinya itu sakit. Sebab hatinya tidak terbingkai oleh ilmu. Sedangkan kematian itu sudah pasti. Namun dia tidak merasa karena disibukan  oleh kecintaannya terhadap dunia.

Jadi kecintaannya seseorang terhadap dunia itu akibatnya orang tersebut bisa lupa dengan urusan akhirat. Sama halnya seperti adanya perasaan takut itu terkadang bisa menghilangkan rasa sakitnya luka dengan seketika, padahal lukanya masih ada.

Kematian itu Pasti

Ketika kematian itu telah menghilangkan beban dunia maka ia merasakan kebinasaannya dan ia pasti akan merasakan penyesalan yang sangat besar. Akan tetapi penyesalan tersebut tidaklah berguna baginya. Sebab apalah arti penyesalan jika badan sudah berbaring di alam kubur.

Itu sama halnya seperti perasaan orang yang aman dari takutnya, dan orang yang bangun dari mabuknya dan menyadari luka-luka yang dideritanya dalam keadaan mabuk atau dalam keadaan takut. Oleh karenanya kita mohon perlindungan kepada Allah di hari sebelum kita menyesal. Sesungguhhnya manusia itu tidur saat dia hidup, dan dia baru bangun saat dia mati. Maka oleh sebab itu mari kita selalu mencari ilmu buat kita jadikan penerang dan petunjuk dalam kehidupan kita ini.

BACA JUGA  Ketahui Jurusan Kuliah Terfavorit di Kampus Ternama

Tinta A’alim  Yang Dibuat Menuliskan Ilmu

Tidak sedikit para ulama yang senantiasa berkarya menulis beragam ilmu agama agar dapat dipelajari oleah semua ummat islam. Semua itu demi menegakkan agama Allah. Sebagaimana yang diterangkan Al-Hasan yang kami baca dalam Kitab Ihya ulumiddin, yang pada intinya adalah; “Jika tinta ulama itu ditimbang dengan darahnya para Syuhada maka pasti lebih beratan tinta ulama dibandingkan dengan darahnya syuhada”.

Kata Ibnu mas’ud perowi hadits yang intinya; “kita ini wajib mempunyai ilmu sebelum ilmu itu diambil Allah ta’ala”. Maksudnya ilmu diambil itu adalah dengan wafatnya para ulama.

 

Demikian materi singkat yang kami sampaikan semoga manfaat.

Kunjungi juga : https://www.fiqih.co.id/